Sabtu, 04 Januari 2014

Tragedi Anak Berbakat


TRAGEDI: ANAK-ANAK BERBAKAT YANG TAK DIKENALI
(Antonius Tanan)

Siapa Anak Berbakat itu?
Ada beragam definisi tentang siapakah anak berbakat atau anak-anak cerdas istimewa. Mulai dari yang sederhana hingga yang komprehensif sekali. Definisi yang sederhana menyatakan bahwa anak berbakat adalah mereka mereka yang berada 2% paling atas dalam perolehan test IQ atau mereka dengan nilai IQ diatas 130. NAGC atau National Association for Gifted Children di Amerika Serikat memiliki persayaratan yang lebih komprehensif, mereka menganjurkan adanya beragam pengukuran (test), menggunakan alat ukur yang valid dan pengumpulan informasi dari berbagai sumber (orang tua, guru, teman sebaya) untuk proses assessment anak-anak berbakat ini.

Sebuah definisi tentang anak berbakat telah disepakati dalam Seminar Nasional “Alternatif Program Pendidikan bagi Anak Berbakat” yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Yayasan Pengembangan Kreativitas pada tanggal 12-14 November 1981 di Jakarta (Utami Munandar, 1982) sebagai berikut: Anak-anak berbakat adalah mereka yang oleh orang-orang profesional diindentifikasikan sebagai anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul. Anak-anak berbakat tersebut memerlukan program pendidikan yang berdiferensiasi dan/atau pelayanan di luar jangkauanprogram sekolah biasa agar dapat merealisasikan sumbangan mereka terhadap masyarakat maupun untuk pengembangan diri sendiri. Kemampuan-kemampuan tersebut, baik secara potensial maupun yang telah nyata meliputi:
§   Kemampuan inteletual umum (kecerdasan atau intelegensia)
§   Kemampuan akademik khusus
§   Kemampuan berpikir kreatif-produktif
§   Kemampuan memimpin
§   Kemampuan dalam salah satu bidang seni
§   Kemampuan psikomotor (seperti dalam olah raga)

Anak-anak berbakat yang sekarang berada di ruang-ruang kelas kita adalah harapan bangsa untuk peraih medali dalam kompetisi akademis ataupun olah raga, mereka adalah kandidat peraih nobel, mereka adalah inventor masa depan, mereka dapat menjadi entrepreneur sosial atau entrepreneur bisnis kelas dunia, mereka akan memecahkan masalah-masalah sulit dan rumit yang kebanyakan kita tidak mampu memahaminya. Ya melalui karya mereka di masa depan kita boleh berharap sebuah Indonesia yang lebih baik. Namun seorang anak berbakat yang lahir dengan kecerdasan istimewa tidak begitu saja menjadi manusia dewasa yang berprestasi. Sebagian besar anak-anak berbakat tidak dikenali atau tidak memperoleh peluang untuk menumbuh kembangkan keberbakatannya melalui saluran kurikulum yang cocok dengan kebutuhan mereka.

Sedikitnya terdapat 7 alasan kenapa potensi anak-anak berbakat tidak sepenuhnya tergali atau mengalami sebuah pembinaan yang cocok dan perlu. Pertama  keberbakatan anak-anak tidak selalu mudah kita kenali, orang tua dan guru tidak memiliki informasi yang cukup untuk mengidentifikasi mereka sehingga kita lalai menyediakan lingkungan yang kondunsif untuk pertumbuhannya. Misalnya dibalik perilaku kritis seorang anak mungkin tersimpan intelegensia verbal yang tinggi namun kerap kita hanya label mereka sebagai “anak cerewet”? Dibalik kebiasaan anak asyik masyuk berimajinasi sendirian barangkali tersimpan kecerdasan visual yang luar biasa dan bisa saja dalam kehidupan sehari-hari anak seperti ini kita sebut si “tukang ngelamun”.  

Kedua, selain tidak semua orang tua memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengenalinya namun jika mengenalinya tidak tahu bagaimana mengembangkannya. Sebagai akibatnya keberbakatan anak hanya jadi mutiara yang tidak terasah seumur hidup dari usia anak hingga ia jadi tua. Ketiga, sebagian anak-anak berbakat memiliki masalah. Apakah masalah dengan kehidupan emosi mereka ataupun memiliki kelemahan-kelemahan lain yang hadir bersamaan dengan keberbakatan mereka. Sebagai contoh salah satu ciri anak berbakat adalah sensitifitas terhadap suara, bau, sentuhan maupun sensitif secara emosi. Mereka yang sensitif secara emosi gampang tersentuh hatinya, terharu dan menitikkan air mata. Sensitifitas memiliki nilai positif yaitu kemampuan berempati secara mendalam namun lingkungannya mungkin hanya melabel dia sebagai anak cengeng.
Keempat belum banyak pakar psikologi pendidikan yang memiliki keahliaan khusus dalam bidang keberbakatan. Dibandingkan dengan jumlah sekolah dan jumlah peserta didik Indonesia maka kita memiliki terlalu sedikit psikolog sekolah dengan keahliaan khusus ini. Pertemuan tahunan para pendidik anak berbakat yang bernama Confratute di University of Connecticut kurang dikenal di Indonesia dan sedikit pendidik Indonesia yang pernah hadir di acara tersebut. Padahal Confratute diselenggarakan oleh  Dr.Joseph Renzulli dan timnya seorang pakar dunia untuk keberbakatan dan pendidikan keberbakatan yang pandangan-pandangannya menjadi acuan di fakultas psikologi pendidikan. 
Kelima, pusat-pusat yang memberikan perhatian utama pada keberbakatan seperti Pusat Keberbakatan UI masih terlalu sedikit jumlahnya. Idealnya di tiap propinsi terdapat satu pusat.  Keenam, belum banyak edukator di Indonesia yang memiliki keahliaan yang cukup untuk mengembangkan kurikulum pembelajaran untuk anak-anak berbakat. Sebagai akibatnya terlalu sedikit jumlah sekolah yang memberikan fasilitas pendidikan yang ramah terhadap keunikan dan keistimewaan anak-anak berbakat cerdas istimewa. Padahal sudah terdapat ragam strategi intervensi pembelajaran yang dapat lebih mengakomodasi kebutuhan mereka.   Ketujuh, masih dirasakan sedikit sekali perhatian media massa terhadap keberbakatan padahal ini adalah sumber daya masa depan yang sangat bernilai untuk kesejahteraan bangsa.

Anak-anak berbakat adalah calon pemimpin masa depan, tenokrat masa depan, peraih nobel masa depan, seniman masa depan, mereka telah terlahir dengan keunikan dan keunggulan tersendiri. Bila keberbakatan mereka dikenali dan dikembangkan sejak dini mereka dapat berkembang menjadi solusi dan agen perubahan masa depan yang akan memberikan kontribusi penting dalam mewujudkan Indonesia sejahtera. Untuk dapat melaksanakan ini semua kita tidak dapat hanya mengandalkan inisiatif pemerintah ataupun lembaga pendidikan. Pekerjaan rumah yang harus dilakukan masih terlalu besar dibandingkan dengan kapasitas yang tersedia. Kita perlu menggalang potensi orang tua dari anak-anak berbakat untuk bersama-sama memikirkan jalan keluar dan menemukan terobosan-terobosan baru untuk mewujudkan anak-anak berbakat Indonesia untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

Anak Berbakat Cerdas Istinewa Tidak Tumbuh Begitu Saja


ANAK-ANAK BERBAKAT TIDAK TUMBUH BEGITU SAJA
(Antonius Tanan)

Keberbakatan seorang anak tidak selalu mudah dikenal dan anak-anak yang berbakat itu bisa juga memperoleh nilai buruk di sekolah. Anak-anak yang sesunguhnya memiliki potensi besar ini memiliki peluang mengalami sindrom Prestasi dibawah Kemampuan (underachiever).  Oleh karena itu sangat penting untuk mengenal keberbakatan mereka dan membantu mereka bertumbuh.

Siapakah Anak Berbakat Itu
Ada berbagai pendapat tentang kriteria anak-anak berbakat (gifted children), dari yang paling sederhana hingga yang komprehensif. Pada kriteria yang sederhana anak berbakat adalah mereka mereka yang nilai IQ diatas 130 ketika diuji menurut skala Wechler.

Sebuah kriteria yang lebih komprehensif misalnya persyaratan yang dikembangkan oleh  NAGC atau National Association for Gifted Children di Amerika Serikat. Mereka menganjurkan adanya beragam pengukuran (test), menggunakan alat ukur yang valid dan pengumpulan informasi dari berbagai sumber (orang tua, guru, teman sebaya). Jadi terdapat sebuah proses assessment yang lengkap untuk dapat menyatakan apakah seorang anak memiliki keberbakatan.

Mereka Tidak tumbuh Begitu Saja
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ternyata keberbakatan tidak tumbuh begitu saja karena terbukti pentingnya pengaruh dari orang dewasa yang memberikan dorongan dan dukungan di masa kecil mereka.

Walberg (1981) dan 76 ahli lainnya melalui penelitiannya membuktikan betapa pentingnya dorongan dan dukungan diatas. Mereka mempelajari biografi lebih dari 210 pria orang-orang terkemuka yang lahir antara abad 14 dan 20, didalamnya termasuk Bach, Bethoven, Da Vinci, Darwin, Dickens, Goethe, Lincoln, Milton, Napoleon, Newton, Rembrandt, Voltaire & Washington. Mereka melihat bahwa dorongan dan stimulasi dari keluarga, sekolah dan lingkungan selama masa kecil menjadi indikator-indikator kuat munculnya keunggulan anak-anak berbakat ini di usia lebih dewasa. Inilah yang mereka temukan

-       70% dari orangtua mereka memberikan ekspetasi yang jelas
-       9 dari 10 mendapat keleluasaan mengeksplorasi lingkungannya
-       lebih dari separuh menerima dorongan dari orangtua
-       kebanyakan atau mayoritas dari mereka mendapat dorongan dari guru atau orang dewasa lain
-       Banyak dari mereka ketika kanak-anak hidupnya terbuka atau bersentuhan dengan orang-orang dewasa yang berprestasi.

Profesor Dr. Utami Munandar dalam bukunya dengan judul “Pengembangan kreativitas Anak Berbakat” (Rineka Cipta, 2004)  menceritakan hasil pengamatannya ketika membandingkan keluarga dari anak-anak SD di 5 wilayah DKI Jakarta yaitu mereka yang memiliki IQ diatas 130 dengan mereka yang memiliki IQ di taraf rata-rata saja. Pada tahun 1982 ketika penelitian ini dilakukan Prof. Munandar mengambil cuplikan masing-masing kelompok sebanyak 50 anak yang duduk di kelas 6 SD dari 39 SD di 5 wilayah DKI Jakarta.  Orang tua dari masing-masing kelompok ini mendapat mendapat kuesioner untuk diisi. Tujuannya untuk memperoleh gambaran tentang perbedaan antara keluarga dari anak-anak berbakat secara intelektual dengan keluarga anak yang mempunyai taraf kecerdasan rata-rata saja.

Sangat menarik bahwa hasil studi menunjukkan bahwa orang tua dari anak-anak berbakat mempunyai tingkat pendidikan, jabatan professional dan penghasilan yang lebih tinggi.  Banyak dari antara mereka yang mempunyai hobi membaca, walaupun secara umum kebiasaan membaca semua orang tua belum tinggi.  Orang tua dari anak-anak berbakat memberikan perhatian dan aspirasi yang lebih tinggi terhadap pendidikan anak.  Jumlah anak di dalam keluarga dari anak-anak berbakat juga lebih kecil. Satu hal yang juga sangat menarik yaitu adanya fakta bahwa persentase anak-anak berbakat yang menjadi anak sulung ternyata lebih tinggi. Hasil pengamatan ini menunjukkan pola yang sama sebagaimana dikemukakan para ahli lain yang melakukan penelitian di luar negeri.

Orang Tua sebagai Model
Berikut ini adalah kisah tentang tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang tua (atau orang dewasa yang ada di sekitarnya) dari anak-anak yang berbakat yang kemudian anak-anak ini berhasil menjadi tokoh dunia.

Ayah dari Marie Curie adalah seorang guru besar fisika ia sudah memperkenalkan fisika sejak dini kepada Marie kecil. Ia kerap mengundang Marie ke laboratoriumnya melihat alat-alat untuk melakukan eksperimen.  Ia suka bercerita kepada Marie tentang pekerjaannya dan menunjukkan melalui perilakunya tentang dedikasinya terhadap sains.

Bagi Margaret Mead pengaruh yang besar diperoleh dari ibu dan neneknya. Ia menceritakan bahwa neneknya berhasil belajar di perguruan tinggi yang pada zaman itu masih amat langka untuk seorang wanita. Hal yang sama terjadi pada ibu dari Margaret Mead, tidak heran bila kemudian Margaret Mead tumbuh sebagai pribadi yang tidak meragukan kemampuan wanita untuk pekerjaan otak.

Demikian juga dengan Albert Einstein ia mulai membaca buku sains popular ketika masih kecil. Ia sangat beruntung karena di masa kecilnya hidupnya bersentuhan dengan seorang mahasiswa kedokteran yang seminggu sekali berkunjung ke rumahnya memberikan buku-buku itu. 

Charles Dickens, penulis buku cerita anak yang terkenal, sudah sering diajak mengunjungi teater ketika ia masih anak. Ia beruntung memiliki seorang ayah yang kerap menyediakan waktu untuk bercerita kepadanya. Pengasuh Charles Dickens juga sering menceritakan cerita-cerita pengantar tidur.

Prof Utami menyatakan bahwa semua orang dewasa dapat menjadi model bagi seorang anak, apakah itu guru, anggota keluarga, teman orang tua, atau kakek dan nenek.  Tetapi model yang paling penting ialah ayah dan ibu yang dapat jadi teladan, kreatif dan memusatkan perhatian terhadap bidang minat anak-anaknya. Orang tua seperti ini dalam kehidupannya memperlihatkan semangat dan motivasi intrinsik, memberikan contoh tentang keahlian dan memiliki disiplin diri dalam bekerja. Memang adalah tepat bila dikatakan anak-anak kita lebih banyak belajar dari yang mereka lihat dari orang tuanya dan bukan dari yang mereka dengar dari orang tuanya.

Doug Wead yang pernah menjadi asisten khusus mantan Presiden George HW Bush mengarang sebuah buku dengan judul ”The Raising of A President” (Atria Books, 2005). Ia melakukan penyelidikan dan  pengamatan yang mendalam terhadap keluarga-keluarga yang membesarkan presiden-presiden Amerika Serikat. Doug Wead memaparkan dengan gamblang bagaimana para orang tua presiden-presiden terkemuka ini memberikan pengaruh yang jelas pada anak-anak mereka. Tidak heran bila kemudian Abraham Lincoln pernah berkata ”God bless my mother, all I am or ever hope to be I owe to her”

Kesimpulan
Orang tua sebagai pemberi pengaruh utama kepada anak-anak telah lama kita sadari bersama namun kesadaran untuk belajar bagaimana menjadi orang tua yang kompeten dalam membesarkan anak dengan benar dan bermutu tampaknya belum sepenuhnya disadari oleh banyak orang.

Menjadi orang tua tidak kalah pentingnya dengan menjadi seorang akuntan, arsitek, general manajer ataupun presiden direktur. Untuk meraih posisi-posisi itu banyak orang yang menginvestasikan waktu dan uang untuk membaca buku, kuliah lagi, hadir di seminar atau pelatihan bahkan sampai keluar negeri. Adalah sangat pantas sebagai orang tua kita juga melakukan investasi yang sama bukan? Harus kita tanamkan dalam diri bahwa peran ayah dan ibu adalah sangat penting dan tidak bisa kita delegasikan kepada siapapun. Sangat disayangkan bila TUHAN mengaruniakan anak berbakat di dalam keluarga namun sebagai orang tua kita lalai mengetahuinya sejak dini dan kurang membantu anak menumbuh kembangkan talenta berharga anugerahNya yang kelak akan sangat bermanfaat bagi anak-anak itu sendiri dan juga bagi masyarakat.


Edukasi Anak Berbakat Cerdas Istimewa


EDUKASI UNTUK ANAK-ANAK BERBAKAT
(Antonius Tanan)

Adalah sebuah praktek pendidikan yang umum bila proses pembelajaran di sekolah menggunakan standar anak normal atau anak biasa. Ini adalah sebuah kebijakan yang masuk akal karena memang secara statistik mereka yang memiliki nilai IQ antara 85 sampai dengan 115 adalah sekitar 70% dari populasi. Namun dengan adanya praktek seperti ini secara tidak sengaja telah menyisihkan kebutuhan anak-anak berbakat dengan menciptakan sebuah pembelajaran yang kurang memadai bagi anak-anak berbakat.

Siapakah Anak Berbakat?
Sebuah definisi tentang anak berbakat telah disepakati dalam Seminar Nasional “Alternatif Program Pendidikan bagi Anak Berbakat” yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Yayasan Pengembangan Kreativitas pada tanggal 12-14 November 1981 di Jakarta (Utami Munandar, 1982) sebagai berikut

Anak-anak berbakat adalah mereka yang oleh orang-orang profesional diindentifikasikan sebagai anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul. Anak-anak berbakat tersebut memerlukan program pendidikan yang berdiferensiasi dan/atau pelayanan di luar jangkauanprogram sekolah biasa agar dapat merealisasikan sumbangan mereka terhadap masyarakat maupun untuk pengembangan diri sendiri.

Kemampuan-kemampuan tersebut, baik secara potensial maupun yang telah nyata meliputi:
§  Kemampuan inteletual umum (kecerdasan atau intelegensia)
§  Kemampuan akademik khusus
§  Kemampuan berpikir kreatif-produktif
§  Kemampuan memimpin
§  Kemampuan dalam salah satu bidang seni
§  Kemampuan psikomotor (seperti dalam olah raga)

Anak-anak dengan IQ diatas 130 dapat kita tenggarai memiliki kemungkinan besar keberbakatan walaupun test IQ bukan satu-satunya alat ukur untuk menentukan apakah seorang anak berbakat atau tidak. Sekitar 2% dari populasi manusia memiliki IQ diatas 130 suatu jumlah yang tidak sedikit bila mengingat jumlah penduduk Indonesia yang besar. Presentasi ini makin tinggi di dalam populasi sekolah. Reni Akbar Hawadi (Identifikasi Keberbakatan Intelektual, 2002) menuliskan bahwa perkiraan anak-anak sekolah dengan IQ diatas 130 adalah 3,1% atau 1 dalam 32 populasi siswa. Sangat disayangkan bila anak-anak berbakat seperti diatas dalam masa-masa pertumbuhan intelektualnya tidak mendapatkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang memadai. Bukankah ini merupakan sebuah kerugian besar bagi anak-anak itu sendiri dan bagi masyarakat yang kelak akan mendapatkan manfaat dari kontribusi hidup mereka?

Anak-Anak Berbakat membutuhkan Strategi Pembelajaran Tersendiri
Joan Franklyn Smutly, pendiri dari The Center for Gifted di National-Louis University dalam bukunya Stand Up for Your Gifted Child (Free Spirit, 2001) meyampaikan berbagai alternatif strategi pembelajaran di sekolah untuk anak-anak berbakat. Sedikitnya terdapat 3 strategi utama, yaitu akselerasi, pengayaan (enrichment) dan diffrensiasi. Dalam strategi akselerasi dapat dilakukan pendekatan berikut ini:

Masuk sekolah di usia lebih muda (early entrance)
Sekolah mengijinkan anak berbakat untuk masuk kelas 1 SD pada usia yang lebih muda dibandingkan usia standar karena secara akademis intelektual memiliki kemampuan itu. Hal yang patut diperhatikan dalam pendekatan ini adalah sejauh mana kematangan emosional anak tsb untuk mampu bergaul dengan  mereka yang lebih tua usianya.

Lompat kelas (Grade Skipping)
Anak berbakat diberi kesempatan untuk lompat kelas sehingga secara keseluruhan dapat menyelesaikan pendidikan lebih cepat.

Perkembangan Berkelanjutan (Continous Progress)
Sekolah memberi kesempatan pada anak-anak berbakat untuk melanjutkan pelajarannya untuk subjek-subjek tertentu mendahului teman-teman sekelasnya secara berkelanjutan tanpa harus menunggu teman-temannya ataupun mengikuti standar kelas yang ada.

Pendekatan kedua adalah pengayaan (enrichment), secara garis besar sekolah mengadakan program pembelajaran yang berbeda atau memberi kesemptan untuk memperdalam bidang studi tertentu di luar jam pelajaran. Guru dapat memberikan pembelajaran yang berbeda kepada anak-anak berbakat dengan cara memberi tugas yang lebih kompleks yang menuntut cara berpikir tinggi dan pemecahan masalah. Berbagai pendekatan praktis berikut ini dapat dilakukan oleh sekolah untuk membantu anak-anak berbakat.

Program khusus (Pull-out Programs)
Dalam program ini anak-anak berbakat dikumpulkan dengan teman-temannya yang memiliki tingkat keberbakatan yang sama di luar kelas regular. Mereka mendapatkan mentor khusus dan  berkumpul dengan teman-teman yang sama untuk belajar bersama, mendapatkan materi yang lebih dalam dan tantangan yang lebih besar.

Program Suplemen
Sekolah dapat melakukan program suplemen yang berkenaan dengan kebutuhan anak-anak berbakat. Program suplemen dilakukan diluar dilakukan di akhir pekan ataupun selama masa liburan. Topik-topik dalam program suplemen disesuaikan dengan jenis keberbakatan anak yang ada di sekolah. Itu bisa berkaitan dengan seni kreatif, olah raga, matematika, IPA ataupun kepemimpinan.

Menyediakan Mentor
Dalam program sekolah mengambil inisiatif untuk memperkuat minat anak-anak berbakat dengan mempertemukan mereka dengan orang dewasa yang memiliki prestasi dalam bidang tsb. Sekolah menghadirkan para role model ini untuk berdiskusi, memberikan inspirasi, bimbingan dan menyedikan diri untuk menjadi teman anak-anak berbakat. Mereka yang menjadi mentor biasanya adalah mereka yang memiliki minat, reputasi dan ketrampilan khusus.

Pendekatan ketiga adalah pembedaan (diffrentiation).  Keberbakatan dalam diri anak-anak berbakat memang membutuhkan pembedaan dari sisi bahan pelajaran, proses pembelajaran dan hasil akhir yang dapat dituntut dari mereka. Sekolah dapat melakukan insiatif-inisiatif berikut ini

Kurikulum yang dibuat kompak (Compacting Curriculum)
Anak-anak berbakat dijinkan untuk mengikuti program pembelajaran yang berkaitan dengan bidang studi tertentu dengan lebih cepat. Ini berarti mereka diijinkan untuk tidak mengikuti jam-jam tertentu dan dapat menggunakan waktu untuk mempelajari hal yang lebih kompleks dalam bidang studi. Untuk melakukan program ini biasanya anak-anak ini harus mengikuti test lebih dulu diawal tahun pelajaran untuk mengetahui sejauh mana pengusaan anak terhadap bahan studi.

Pengelompokan berdasarkan Kemampuan
Anak-anak dengan keberbakatan yang sama pada saat belajar mata pelajaran tertentu. Misalnya pada saat belajar bahasa terdapat satu kelas untuk mereka dengan yang memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari kebanyakan teman-teman sebaya dalam bidang tersebut.  

Pengelompokan yang Fleksibel
Ini dapat dilakukan ketika guru memberikan tugas kepada anak-anak dalam satu kelas. Guru dapat mengelompokkan anak berdasarkan keberbakatannya dan dapat juga memberikan tingkat penugasan yang berbeda. Jadi guru mengelompokkan siswa dengan memperhatikan keberbakatan masing-masing anak. Peran guru dalam pendekatan ini adalah sangat penting

Grup Kluster (Cluster Grouping)
Sekolah mengelompokkan anak-anak berbakat bukan hanya dalam mata pelajaran tertentu saja namun mereka dikelompokkan dalam kelas yang sama selama tahun ajaran. Jadi terdapat kelas untuk mereka yang dalam kelompok berbakat matematika, bahasa ataupun IPA misalnya.

Individualisasi
Sekolah memberikan kesempatan dan dukungan bagi anak-anak berbakat untuk mengembangkan minatnya dalam bidang keberbakatannya. Mereka mendapat bimbingan untuk memperdalam topik dan memperluas pengetahuan secara individu. Guru membimbing anak-anak berbakat ini untuk menetapkan sasaran, menemukan sumber belajar, membuat skedul dan mempresentasikan hasil kepada guru dan teman sekelas.

Menyelenggarakan pendidikan sekolah yang mampu mengakomodasi kebutuhan anak-anak berbakat tidak mudah. Alternatif-alternatif diatas adalah contoh-contoh strategi yang pada akhirnya perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan setempat untuk akhirnya menemukan pola strategi yang paling tepat. Membangun sekolah yang mampu melayani anak-anak berbakat menuntut kehadiran sekolah yang peduli anak berbakat, memiliki SDM yang handal dan kelengkapan fisik sekolah yang memadai. 

Tampaknya kehadiran pendidikan yang cocok dengan kebutuhan anak-anak berbakat hanya mungkin terwujud bila sekolah itu sendiri cukup mapan, sekolah memiliki jumlah murid anak-anak berbakat yang cukup banyak dan memiliki tenaga SDM yang mampu menangani kebutuhan ini. Walaupun tampaknya sulit kiranya tidak menyurutkan keinginan kita untuk melayani kebutuhan anak-anak berbakat yang merupakan karunia TUHAN untuk masyarakat.