ANAK-ANAK BERBAKAT
TIDAK TUMBUH BEGITU SAJA
(Antonius
Tanan)
Keberbakatan seorang anak tidak selalu mudah
dikenal dan anak-anak yang berbakat itu bisa juga memperoleh nilai buruk di
sekolah. Anak-anak yang sesunguhnya memiliki potensi besar ini memiliki peluang
mengalami sindrom Prestasi dibawah Kemampuan (underachiever). Oleh karena itu sangat penting untuk mengenal
keberbakatan mereka dan membantu mereka bertumbuh.
Siapakah
Anak Berbakat Itu
Ada berbagai pendapat tentang kriteria anak-anak
berbakat (gifted children), dari yang paling sederhana hingga yang
komprehensif. Pada kriteria yang sederhana anak berbakat adalah mereka mereka yang nilai IQ diatas 130 ketika diuji menurut skala Wechler.
Sebuah kriteria yang lebih komprehensif misalnya persyaratan yang
dikembangkan oleh NAGC atau National Association for Gifted Children di
Amerika Serikat. Mereka menganjurkan adanya beragam pengukuran (test),
menggunakan alat ukur yang valid dan pengumpulan informasi dari berbagai sumber
(orang tua, guru, teman sebaya). Jadi terdapat sebuah proses assessment yang lengkap untuk dapat menyatakan
apakah seorang anak memiliki keberbakatan.
Mereka
Tidak tumbuh Begitu Saja
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ternyata
keberbakatan tidak tumbuh begitu saja karena terbukti pentingnya pengaruh dari orang
dewasa yang memberikan dorongan dan dukungan di masa kecil mereka.
Walberg (1981) dan 76 ahli lainnya melalui
penelitiannya membuktikan betapa pentingnya dorongan dan dukungan diatas.
Mereka mempelajari biografi lebih dari 210 pria orang-orang terkemuka yang
lahir antara abad 14 dan 20, didalamnya termasuk Bach, Bethoven, Da Vinci,
Darwin, Dickens, Goethe, Lincoln, Milton, Napoleon, Newton, Rembrandt, Voltaire
& Washington. Mereka melihat bahwa dorongan dan stimulasi dari keluarga,
sekolah dan lingkungan selama masa kecil menjadi indikator-indikator kuat
munculnya keunggulan anak-anak berbakat ini di usia lebih dewasa. Inilah yang
mereka temukan
-
70%
dari orangtua mereka memberikan ekspetasi yang jelas
-
9
dari 10 mendapat keleluasaan mengeksplorasi lingkungannya
-
lebih
dari separuh menerima dorongan dari orangtua
-
kebanyakan
atau mayoritas dari mereka mendapat dorongan dari guru atau orang dewasa lain
-
Banyak
dari mereka ketika kanak-anak hidupnya terbuka atau bersentuhan dengan
orang-orang dewasa yang berprestasi.
Profesor Dr. Utami Munandar dalam bukunya dengan
judul “Pengembangan kreativitas Anak Berbakat” (Rineka Cipta, 2004) menceritakan hasil pengamatannya ketika
membandingkan keluarga dari anak-anak SD di 5 wilayah DKI Jakarta yaitu mereka yang
memiliki IQ diatas 130 dengan mereka yang memiliki IQ di taraf rata-rata saja.
Pada tahun 1982 ketika penelitian ini dilakukan Prof. Munandar mengambil
cuplikan masing-masing kelompok sebanyak 50 anak yang duduk di kelas 6 SD dari
39 SD di 5 wilayah DKI Jakarta. Orang
tua dari masing-masing kelompok ini mendapat mendapat kuesioner untuk diisi.
Tujuannya untuk memperoleh gambaran tentang perbedaan antara keluarga dari
anak-anak berbakat secara intelektual dengan keluarga anak yang mempunyai taraf
kecerdasan rata-rata saja.
Sangat menarik bahwa hasil studi menunjukkan bahwa
orang tua dari anak-anak berbakat mempunyai tingkat pendidikan, jabatan
professional dan penghasilan yang lebih tinggi.
Banyak dari antara mereka yang mempunyai hobi membaca, walaupun secara
umum kebiasaan membaca semua orang tua belum tinggi. Orang tua dari anak-anak berbakat memberikan
perhatian dan aspirasi yang lebih tinggi terhadap pendidikan anak. Jumlah anak di dalam keluarga dari anak-anak
berbakat juga lebih kecil. Satu hal yang juga sangat menarik yaitu adanya fakta
bahwa persentase anak-anak berbakat yang menjadi anak sulung ternyata lebih
tinggi. Hasil pengamatan ini menunjukkan pola yang sama sebagaimana dikemukakan
para ahli lain yang melakukan penelitian di luar negeri.
Orang
Tua sebagai Model
Berikut ini adalah kisah tentang tindakan-tindakan
yang dilakukan oleh orang tua (atau orang dewasa yang ada di sekitarnya) dari
anak-anak yang berbakat yang kemudian anak-anak ini berhasil menjadi tokoh dunia.
Ayah dari Marie Curie adalah seorang guru besar
fisika ia sudah memperkenalkan fisika sejak dini kepada Marie kecil. Ia kerap
mengundang Marie ke laboratoriumnya melihat alat-alat untuk melakukan
eksperimen. Ia suka bercerita kepada
Marie tentang pekerjaannya dan menunjukkan melalui perilakunya tentang
dedikasinya terhadap sains.
Bagi Margaret Mead pengaruh yang besar diperoleh
dari ibu dan neneknya. Ia menceritakan bahwa neneknya berhasil belajar di
perguruan tinggi yang pada zaman itu masih amat langka untuk seorang wanita.
Hal yang sama terjadi pada ibu dari Margaret Mead, tidak heran bila kemudian Margaret
Mead tumbuh sebagai pribadi yang tidak meragukan kemampuan wanita untuk
pekerjaan otak.
Demikian juga dengan Albert Einstein ia mulai membaca
buku sains popular ketika masih kecil. Ia sangat beruntung karena di masa
kecilnya hidupnya bersentuhan dengan seorang mahasiswa kedokteran yang seminggu
sekali berkunjung ke rumahnya memberikan buku-buku itu.
Charles Dickens, penulis buku cerita anak yang
terkenal, sudah sering diajak mengunjungi teater ketika ia masih anak. Ia
beruntung memiliki seorang ayah yang kerap menyediakan waktu untuk bercerita
kepadanya. Pengasuh Charles Dickens juga sering menceritakan cerita-cerita
pengantar tidur.
Prof Utami menyatakan bahwa semua orang dewasa
dapat menjadi model bagi seorang anak, apakah itu guru, anggota keluarga, teman
orang tua, atau kakek dan nenek. Tetapi
model yang paling penting ialah ayah dan ibu yang dapat jadi teladan, kreatif dan
memusatkan perhatian terhadap bidang minat anak-anaknya. Orang tua seperti ini
dalam kehidupannya memperlihatkan semangat dan motivasi intrinsik, memberikan
contoh tentang keahlian dan memiliki disiplin diri dalam bekerja. Memang adalah
tepat bila dikatakan anak-anak kita lebih banyak belajar dari yang mereka lihat
dari orang tuanya dan bukan dari yang mereka dengar dari orang tuanya.
Doug Wead yang pernah menjadi
asisten khusus mantan Presiden George HW Bush mengarang sebuah buku dengan
judul ”The Raising of A President” (Atria Books, 2005). Ia melakukan
penyelidikan dan pengamatan yang
mendalam terhadap keluarga-keluarga yang membesarkan presiden-presiden Amerika
Serikat. Doug Wead memaparkan dengan gamblang bagaimana para orang tua
presiden-presiden terkemuka ini memberikan pengaruh yang jelas pada anak-anak
mereka. Tidak heran bila kemudian Abraham Lincoln pernah berkata ”God bless my
mother, all I am or ever hope to be I owe to her”
Kesimpulan
Orang tua sebagai pemberi pengaruh utama kepada
anak-anak telah lama kita sadari bersama namun kesadaran untuk belajar
bagaimana menjadi orang tua yang kompeten dalam membesarkan anak dengan benar
dan bermutu tampaknya belum sepenuhnya disadari oleh banyak orang.
Menjadi orang tua tidak kalah pentingnya dengan
menjadi seorang akuntan, arsitek, general manajer ataupun presiden direktur.
Untuk meraih posisi-posisi itu banyak orang yang menginvestasikan waktu dan
uang untuk membaca buku, kuliah lagi, hadir di seminar atau pelatihan bahkan
sampai keluar negeri. Adalah sangat pantas sebagai orang tua kita juga
melakukan investasi yang sama bukan? Harus kita tanamkan dalam diri bahwa peran
ayah dan ibu adalah sangat penting dan tidak bisa kita delegasikan kepada
siapapun. Sangat disayangkan bila TUHAN mengaruniakan anak berbakat di dalam
keluarga namun sebagai orang tua kita lalai mengetahuinya sejak dini dan kurang
membantu anak menumbuh kembangkan talenta berharga anugerahNya yang kelak akan
sangat bermanfaat bagi anak-anak itu sendiri dan juga bagi masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar