Sabtu, 04 Januari 2014

Anak Berbakat Cerdas Istinewa Tidak Tumbuh Begitu Saja


ANAK-ANAK BERBAKAT TIDAK TUMBUH BEGITU SAJA
(Antonius Tanan)

Keberbakatan seorang anak tidak selalu mudah dikenal dan anak-anak yang berbakat itu bisa juga memperoleh nilai buruk di sekolah. Anak-anak yang sesunguhnya memiliki potensi besar ini memiliki peluang mengalami sindrom Prestasi dibawah Kemampuan (underachiever).  Oleh karena itu sangat penting untuk mengenal keberbakatan mereka dan membantu mereka bertumbuh.

Siapakah Anak Berbakat Itu
Ada berbagai pendapat tentang kriteria anak-anak berbakat (gifted children), dari yang paling sederhana hingga yang komprehensif. Pada kriteria yang sederhana anak berbakat adalah mereka mereka yang nilai IQ diatas 130 ketika diuji menurut skala Wechler.

Sebuah kriteria yang lebih komprehensif misalnya persyaratan yang dikembangkan oleh  NAGC atau National Association for Gifted Children di Amerika Serikat. Mereka menganjurkan adanya beragam pengukuran (test), menggunakan alat ukur yang valid dan pengumpulan informasi dari berbagai sumber (orang tua, guru, teman sebaya). Jadi terdapat sebuah proses assessment yang lengkap untuk dapat menyatakan apakah seorang anak memiliki keberbakatan.

Mereka Tidak tumbuh Begitu Saja
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ternyata keberbakatan tidak tumbuh begitu saja karena terbukti pentingnya pengaruh dari orang dewasa yang memberikan dorongan dan dukungan di masa kecil mereka.

Walberg (1981) dan 76 ahli lainnya melalui penelitiannya membuktikan betapa pentingnya dorongan dan dukungan diatas. Mereka mempelajari biografi lebih dari 210 pria orang-orang terkemuka yang lahir antara abad 14 dan 20, didalamnya termasuk Bach, Bethoven, Da Vinci, Darwin, Dickens, Goethe, Lincoln, Milton, Napoleon, Newton, Rembrandt, Voltaire & Washington. Mereka melihat bahwa dorongan dan stimulasi dari keluarga, sekolah dan lingkungan selama masa kecil menjadi indikator-indikator kuat munculnya keunggulan anak-anak berbakat ini di usia lebih dewasa. Inilah yang mereka temukan

-       70% dari orangtua mereka memberikan ekspetasi yang jelas
-       9 dari 10 mendapat keleluasaan mengeksplorasi lingkungannya
-       lebih dari separuh menerima dorongan dari orangtua
-       kebanyakan atau mayoritas dari mereka mendapat dorongan dari guru atau orang dewasa lain
-       Banyak dari mereka ketika kanak-anak hidupnya terbuka atau bersentuhan dengan orang-orang dewasa yang berprestasi.

Profesor Dr. Utami Munandar dalam bukunya dengan judul “Pengembangan kreativitas Anak Berbakat” (Rineka Cipta, 2004)  menceritakan hasil pengamatannya ketika membandingkan keluarga dari anak-anak SD di 5 wilayah DKI Jakarta yaitu mereka yang memiliki IQ diatas 130 dengan mereka yang memiliki IQ di taraf rata-rata saja. Pada tahun 1982 ketika penelitian ini dilakukan Prof. Munandar mengambil cuplikan masing-masing kelompok sebanyak 50 anak yang duduk di kelas 6 SD dari 39 SD di 5 wilayah DKI Jakarta.  Orang tua dari masing-masing kelompok ini mendapat mendapat kuesioner untuk diisi. Tujuannya untuk memperoleh gambaran tentang perbedaan antara keluarga dari anak-anak berbakat secara intelektual dengan keluarga anak yang mempunyai taraf kecerdasan rata-rata saja.

Sangat menarik bahwa hasil studi menunjukkan bahwa orang tua dari anak-anak berbakat mempunyai tingkat pendidikan, jabatan professional dan penghasilan yang lebih tinggi.  Banyak dari antara mereka yang mempunyai hobi membaca, walaupun secara umum kebiasaan membaca semua orang tua belum tinggi.  Orang tua dari anak-anak berbakat memberikan perhatian dan aspirasi yang lebih tinggi terhadap pendidikan anak.  Jumlah anak di dalam keluarga dari anak-anak berbakat juga lebih kecil. Satu hal yang juga sangat menarik yaitu adanya fakta bahwa persentase anak-anak berbakat yang menjadi anak sulung ternyata lebih tinggi. Hasil pengamatan ini menunjukkan pola yang sama sebagaimana dikemukakan para ahli lain yang melakukan penelitian di luar negeri.

Orang Tua sebagai Model
Berikut ini adalah kisah tentang tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang tua (atau orang dewasa yang ada di sekitarnya) dari anak-anak yang berbakat yang kemudian anak-anak ini berhasil menjadi tokoh dunia.

Ayah dari Marie Curie adalah seorang guru besar fisika ia sudah memperkenalkan fisika sejak dini kepada Marie kecil. Ia kerap mengundang Marie ke laboratoriumnya melihat alat-alat untuk melakukan eksperimen.  Ia suka bercerita kepada Marie tentang pekerjaannya dan menunjukkan melalui perilakunya tentang dedikasinya terhadap sains.

Bagi Margaret Mead pengaruh yang besar diperoleh dari ibu dan neneknya. Ia menceritakan bahwa neneknya berhasil belajar di perguruan tinggi yang pada zaman itu masih amat langka untuk seorang wanita. Hal yang sama terjadi pada ibu dari Margaret Mead, tidak heran bila kemudian Margaret Mead tumbuh sebagai pribadi yang tidak meragukan kemampuan wanita untuk pekerjaan otak.

Demikian juga dengan Albert Einstein ia mulai membaca buku sains popular ketika masih kecil. Ia sangat beruntung karena di masa kecilnya hidupnya bersentuhan dengan seorang mahasiswa kedokteran yang seminggu sekali berkunjung ke rumahnya memberikan buku-buku itu. 

Charles Dickens, penulis buku cerita anak yang terkenal, sudah sering diajak mengunjungi teater ketika ia masih anak. Ia beruntung memiliki seorang ayah yang kerap menyediakan waktu untuk bercerita kepadanya. Pengasuh Charles Dickens juga sering menceritakan cerita-cerita pengantar tidur.

Prof Utami menyatakan bahwa semua orang dewasa dapat menjadi model bagi seorang anak, apakah itu guru, anggota keluarga, teman orang tua, atau kakek dan nenek.  Tetapi model yang paling penting ialah ayah dan ibu yang dapat jadi teladan, kreatif dan memusatkan perhatian terhadap bidang minat anak-anaknya. Orang tua seperti ini dalam kehidupannya memperlihatkan semangat dan motivasi intrinsik, memberikan contoh tentang keahlian dan memiliki disiplin diri dalam bekerja. Memang adalah tepat bila dikatakan anak-anak kita lebih banyak belajar dari yang mereka lihat dari orang tuanya dan bukan dari yang mereka dengar dari orang tuanya.

Doug Wead yang pernah menjadi asisten khusus mantan Presiden George HW Bush mengarang sebuah buku dengan judul ”The Raising of A President” (Atria Books, 2005). Ia melakukan penyelidikan dan  pengamatan yang mendalam terhadap keluarga-keluarga yang membesarkan presiden-presiden Amerika Serikat. Doug Wead memaparkan dengan gamblang bagaimana para orang tua presiden-presiden terkemuka ini memberikan pengaruh yang jelas pada anak-anak mereka. Tidak heran bila kemudian Abraham Lincoln pernah berkata ”God bless my mother, all I am or ever hope to be I owe to her”

Kesimpulan
Orang tua sebagai pemberi pengaruh utama kepada anak-anak telah lama kita sadari bersama namun kesadaran untuk belajar bagaimana menjadi orang tua yang kompeten dalam membesarkan anak dengan benar dan bermutu tampaknya belum sepenuhnya disadari oleh banyak orang.

Menjadi orang tua tidak kalah pentingnya dengan menjadi seorang akuntan, arsitek, general manajer ataupun presiden direktur. Untuk meraih posisi-posisi itu banyak orang yang menginvestasikan waktu dan uang untuk membaca buku, kuliah lagi, hadir di seminar atau pelatihan bahkan sampai keluar negeri. Adalah sangat pantas sebagai orang tua kita juga melakukan investasi yang sama bukan? Harus kita tanamkan dalam diri bahwa peran ayah dan ibu adalah sangat penting dan tidak bisa kita delegasikan kepada siapapun. Sangat disayangkan bila TUHAN mengaruniakan anak berbakat di dalam keluarga namun sebagai orang tua kita lalai mengetahuinya sejak dini dan kurang membantu anak menumbuh kembangkan talenta berharga anugerahNya yang kelak akan sangat bermanfaat bagi anak-anak itu sendiri dan juga bagi masyarakat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar