EDUKASI UNTUK ANAK-ANAK BERBAKAT
(Antonius Tanan)
Adalah sebuah praktek pendidikan yang umum
bila proses pembelajaran di sekolah menggunakan standar anak normal atau anak
biasa. Ini adalah sebuah kebijakan yang masuk akal karena memang secara
statistik mereka yang memiliki nilai IQ antara 85 sampai dengan 115 adalah
sekitar 70% dari populasi. Namun dengan adanya praktek seperti ini secara tidak
sengaja telah menyisihkan kebutuhan anak-anak berbakat dengan menciptakan
sebuah pembelajaran yang kurang memadai bagi anak-anak berbakat.
Siapakah
Anak Berbakat?
Sebuah definisi tentang anak berbakat telah disepakati
dalam Seminar Nasional “Alternatif Program Pendidikan bagi Anak Berbakat” yang
diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan,
Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan bekerja sama dengan Yayasan Pengembangan Kreativitas pada tanggal
12-14 November 1981 di Jakarta (Utami Munandar, 1982) sebagai berikut
Anak-anak berbakat adalah mereka yang oleh orang-orang
profesional diindentifikasikan sebagai anak yang mampu mencapai prestasi yang
tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul. Anak-anak berbakat
tersebut memerlukan program pendidikan yang berdiferensiasi dan/atau pelayanan
di luar jangkauanprogram sekolah biasa agar dapat merealisasikan sumbangan
mereka terhadap masyarakat maupun untuk pengembangan diri sendiri.
Kemampuan-kemampuan tersebut, baik secara potensial
maupun yang telah nyata meliputi:
§ Kemampuan inteletual umum
(kecerdasan atau intelegensia)
§ Kemampuan akademik khusus
§ Kemampuan berpikir
kreatif-produktif
§ Kemampuan memimpin
§ Kemampuan dalam salah satu
bidang seni
§ Kemampuan psikomotor (seperti
dalam olah raga)
Anak-anak dengan IQ diatas 130 dapat kita tenggarai
memiliki kemungkinan besar keberbakatan walaupun test IQ bukan satu-satunya
alat ukur untuk menentukan apakah seorang anak berbakat atau tidak. Sekitar 2%
dari populasi manusia memiliki IQ diatas 130 suatu jumlah yang tidak sedikit
bila mengingat jumlah penduduk Indonesia yang besar. Presentasi ini makin
tinggi di dalam populasi sekolah. Reni Akbar Hawadi (Identifikasi Keberbakatan
Intelektual, 2002) menuliskan bahwa perkiraan anak-anak sekolah dengan IQ
diatas 130 adalah 3,1% atau 1 dalam 32 populasi siswa. Sangat disayangkan bila anak-anak
berbakat seperti diatas dalam masa-masa pertumbuhan intelektualnya tidak
mendapatkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang
memadai. Bukankah ini merupakan sebuah kerugian besar bagi anak-anak itu
sendiri dan bagi masyarakat yang kelak akan mendapatkan manfaat dari kontribusi
hidup mereka?
Anak-Anak
Berbakat membutuhkan Strategi Pembelajaran Tersendiri
Joan Franklyn Smutly, pendiri dari The Center
for Gifted di National-Louis University dalam bukunya Stand Up for Your Gifted
Child (Free Spirit, 2001) meyampaikan berbagai alternatif strategi pembelajaran
di sekolah untuk anak-anak berbakat. Sedikitnya terdapat 3 strategi utama,
yaitu akselerasi, pengayaan (enrichment) dan diffrensiasi. Dalam strategi
akselerasi dapat dilakukan pendekatan berikut ini:
Masuk
sekolah di usia lebih muda (early entrance)
Sekolah mengijinkan anak berbakat untuk masuk kelas
1 SD pada usia yang lebih muda dibandingkan usia standar karena secara akademis
intelektual memiliki kemampuan itu. Hal yang patut diperhatikan dalam
pendekatan ini adalah sejauh mana kematangan emosional anak tsb untuk mampu bergaul
dengan mereka yang lebih tua usianya.
Lompat
kelas (Grade Skipping)
Anak berbakat diberi kesempatan untuk lompat kelas
sehingga secara keseluruhan dapat menyelesaikan pendidikan lebih cepat.
Perkembangan
Berkelanjutan (Continous Progress)
Sekolah memberi kesempatan pada anak-anak
berbakat untuk melanjutkan pelajarannya untuk subjek-subjek tertentu mendahului
teman-teman sekelasnya secara berkelanjutan tanpa harus menunggu teman-temannya
ataupun mengikuti standar kelas yang ada.
Pendekatan kedua adalah pengayaan
(enrichment), secara garis besar sekolah mengadakan program pembelajaran
yang berbeda atau memberi kesemptan untuk memperdalam bidang studi tertentu di
luar jam pelajaran. Guru dapat memberikan pembelajaran yang berbeda kepada anak-anak
berbakat dengan cara memberi tugas yang lebih kompleks yang menuntut cara
berpikir tinggi dan pemecahan masalah. Berbagai pendekatan praktis berikut ini
dapat dilakukan oleh sekolah untuk membantu anak-anak berbakat.
Program
khusus (Pull-out Programs)
Dalam program ini anak-anak berbakat
dikumpulkan dengan teman-temannya yang memiliki tingkat keberbakatan yang sama di
luar kelas regular. Mereka mendapatkan mentor khusus dan berkumpul dengan teman-teman yang sama untuk
belajar bersama, mendapatkan materi yang lebih dalam dan tantangan yang lebih
besar.
Program
Suplemen
Sekolah dapat melakukan program suplemen yang
berkenaan dengan kebutuhan anak-anak berbakat. Program suplemen dilakukan
diluar dilakukan di akhir pekan ataupun selama masa liburan. Topik-topik dalam
program suplemen disesuaikan dengan jenis keberbakatan anak yang ada di
sekolah. Itu bisa berkaitan dengan seni kreatif, olah raga, matematika, IPA
ataupun kepemimpinan.
Menyediakan
Mentor
Dalam program sekolah mengambil inisiatif
untuk memperkuat minat anak-anak berbakat dengan mempertemukan mereka dengan orang
dewasa yang memiliki prestasi dalam bidang tsb. Sekolah menghadirkan para role
model ini untuk berdiskusi, memberikan inspirasi, bimbingan dan menyedikan diri
untuk menjadi teman anak-anak berbakat. Mereka yang menjadi mentor biasanya
adalah mereka yang memiliki minat, reputasi dan ketrampilan khusus.
Pendekatan ketiga adalah pembedaan
(diffrentiation). Keberbakatan dalam
diri anak-anak berbakat memang membutuhkan pembedaan dari sisi bahan pelajaran,
proses pembelajaran dan hasil akhir yang dapat dituntut dari mereka. Sekolah
dapat melakukan insiatif-inisiatif berikut ini
Kurikulum
yang dibuat kompak (Compacting Curriculum)
Anak-anak berbakat dijinkan untuk mengikuti
program pembelajaran yang berkaitan dengan bidang studi tertentu dengan lebih cepat.
Ini berarti mereka diijinkan untuk tidak mengikuti jam-jam tertentu dan dapat
menggunakan waktu untuk mempelajari hal yang lebih kompleks dalam bidang studi.
Untuk melakukan program ini biasanya anak-anak ini harus mengikuti test lebih
dulu diawal tahun pelajaran untuk mengetahui sejauh mana pengusaan anak terhadap
bahan studi.
Pengelompokan
berdasarkan Kemampuan
Anak-anak dengan keberbakatan yang sama pada
saat belajar mata pelajaran tertentu. Misalnya pada saat belajar bahasa terdapat
satu kelas untuk mereka dengan yang memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari
kebanyakan teman-teman sebaya dalam bidang tersebut.
Pengelompokan
yang Fleksibel
Ini dapat dilakukan ketika guru memberikan
tugas kepada anak-anak dalam satu kelas. Guru dapat mengelompokkan anak
berdasarkan keberbakatannya dan dapat juga memberikan tingkat penugasan yang
berbeda. Jadi guru mengelompokkan siswa dengan memperhatikan keberbakatan
masing-masing anak. Peran guru dalam pendekatan ini adalah sangat penting
Grup
Kluster (Cluster Grouping)
Sekolah mengelompokkan anak-anak berbakat
bukan hanya dalam mata pelajaran tertentu saja namun mereka dikelompokkan dalam
kelas yang sama selama tahun ajaran. Jadi terdapat kelas untuk mereka yang
dalam kelompok berbakat matematika, bahasa ataupun IPA misalnya.
Individualisasi
Sekolah memberikan kesempatan dan dukungan
bagi anak-anak berbakat untuk mengembangkan minatnya dalam bidang
keberbakatannya. Mereka mendapat bimbingan untuk memperdalam topik dan
memperluas pengetahuan secara individu. Guru membimbing anak-anak berbakat ini
untuk menetapkan sasaran, menemukan sumber belajar, membuat skedul dan
mempresentasikan hasil kepada guru dan teman sekelas.
Menyelenggarakan pendidikan sekolah yang mampu
mengakomodasi kebutuhan anak-anak berbakat tidak mudah. Alternatif-alternatif
diatas adalah contoh-contoh strategi yang pada akhirnya perlu disesuaikan
dengan kebutuhan dan tantangan setempat untuk akhirnya menemukan pola strategi
yang paling tepat. Membangun sekolah yang mampu melayani anak-anak berbakat menuntut
kehadiran sekolah yang peduli anak berbakat, memiliki SDM yang handal dan
kelengkapan fisik sekolah yang memadai.
Tampaknya kehadiran pendidikan yang cocok
dengan kebutuhan anak-anak berbakat hanya mungkin terwujud bila sekolah itu
sendiri cukup mapan, sekolah memiliki jumlah murid anak-anak berbakat yang
cukup banyak dan memiliki tenaga SDM yang mampu menangani kebutuhan ini.
Walaupun tampaknya sulit kiranya tidak menyurutkan keinginan kita untuk
melayani kebutuhan anak-anak berbakat yang merupakan karunia TUHAN untuk
masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar