Sabtu, 04 Januari 2014

Keberbakatan & Entrepreneurship


KEBERBAKATAN ANAK & ENTREPRENEURSHIP
Mempersiapkan Anak untuk Sukses di Abad 21 Berdasarkan Keunikan Diri

(Antonius Tanan)

Anak-anak yang berbakat dan cerdas istimewa tidak tumbuh begitu saja. Keberbakatan dan kecerdasan mereka perlu dikenali dan ditumbuh kembangkan sejak dini khususnya oleh orang tua anak sebagai pemberi kasih sayang yang pertama (first care giver). Kecerdasan dan keberbakatan yang mereka miliki adalah karunia dari TUHAN untuk keluarga, sekolah dan bangsa yang kerap tidak kita kenali keindahannya. Lebih disayangkan lagi bila keunggulan mereka ternyata disalah dipahami oleh lingkungan keluarga, teman sebaya atau bahkan oleh sekolah. Anak-anak yang penuh daya kreasi dan enersi menjadi anak-anak yang dianggap sebagai sumber masalah. Mutiara indah yang terbenam dalam dirinya ternyata bisa menjadi sebuah petaka bagi dirinya oleh karena itu kehadiran lingkungan sekolah dan rumah yang mengakomodasi keunikan mereka memang sangat penting bagi pertumbuhan anak-anak berbakat cerdas Istimewa.
 Sudah merupakan pemahaman bersama bahwa keberbakatan memiliki kaitan erat dengan faktor-faktor keturunan atau genetika demikian seperti yang dinyatakan oleh The Institute for Behavioral Genetics di University of Colorado. Namun bekal genetis saja tidak cukup untuk seorang anak Cerdas Istimewa bisa tumbuh dengan optimum dan menjadi anggota masyarakat yang produktif. Faktor lingkungan yang kondunsif dan pembelajaran yang sesuai sangat dibutuhkan guna menumbuh kembangkan talenta-talenta miliknya. Dengan kata lain: “Nature acts as foundation, but nurturing is essential for gifted children to excel”. Oleh karena itu orang tua dan keluarga sebagai tempat tumbuh yang pertama dan utama memiliki peran yang tak tergantikan untuk memastikan adanya “tanah yang gembur” dan “perawatan” yang optimal untuk mendukung tumbuh kembang talenta anak.
Kegagalan orang tua dan sekolah untuk mengidentifikasi dan menumbuh kembangkan anak-anak berbakat dan cerdas istimewa akan menciptakan banyak kerugian. Pertama adalah anak itu sendiri karena anak-anak itu tidak akan tumbuh secara optimal, mereka belajar dan bekerja hanya untuk “sesuap nasi”. Mereka tidak terlatih untuk sanggup masuk ke dalam dunia kerja serta berprestasi berdasarkan keunikan mereka. Kedua, kita akan kehilangan SDM (Sumber Daya Manusia) istimewa yang sesungguhnya adalah sumber daya untuk menciptakan solusi bagi persoalan-persoalan sulit yang sedang dihadapi manusia. Kita memiliki banyak permasalahan sulit seperti banjir, kemacetan lalu lintas, kemiskinan, pengangguran, penyakit-penyakit yang masih sulit atau mahal penyembuhannya, persoalan lingkungan yang makin berat dsb. Anak-anak berbakat dan cerdas cerdas istimewa yang sekarang berada di bangku-bangku sekolah kita adalah harapan kita semua untuk terciptanya solusi baru bagi permasalahan bangsa dan dunia.
Pendidikan entrepreneurship perlu diperkenalkan kepada anak-anak berbakat cerdas istimewa karena dua alasan berikut. Pertama supaya anak-anak ini sanggup meng”entrepreneur”kan keunikan mereka sehingga dapat mencapai sebuah kehidupan yang mandiri secara finansial sekaligus menjadi pencipta lapangan kerja bagi masyarakat. Alasan yang kedua, anak-anak yang belajar entrepeneurship sejak dini akan terlatih untuk berpikir dan bertindak kreatif serta inovatif. Entrepreneurship di abad 21 bukan sekedar “berdagang”, menurut Peter Drucker pakar bisnis dan manajemen dunia esensi dari entrepreneurship adalah inovasi. Inovasi itu sendiri adalah kreativitas yang disambut oleh pasar.
Anak-anak berbakat yang mendapatkan lingkungan dan pembelajaran yang tepat akan menjadi orang dewasa yang mampu berpartisipasi positif dan memberikan kontribusi besar di dalam masyarakat. Sebaliknya bila tidak tertangani dengan baik ia dapat menjadi seseorang dengan prestasi dibawah kemampuan aktualnya atau seorang underachiever. Kondisi ini sangat disayangkan tentunya, JC Gowan dalam bukunya dengan judul “The underachieving child: A problem for everyone” menyatakan bahwa kehadiran anak-anak Cerdas Istimewa dengan prestasi lebih rendah dari seharusnya (underachiever) adalah “one of the greatest social waste of our culture”. Ini semua kiranya meneguhkan kembali panggilan kita semua baik sebagai orang tua anak, sekolah maupun guru untuk dapat memberikan perhatian yang cukup dalam menangani anak-anak berbakat dan cerdas Istimewa yang telah TUHAN titipkan kepada kita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar