KEBERBAKATAN ANAK
& ENTREPRENEURSHIP
Mempersiapkan Anak
untuk Sukses di Abad 21 Berdasarkan Keunikan Diri
(Antonius Tanan)
Anak-anak yang berbakat dan cerdas istimewa tidak tumbuh begitu saja.
Keberbakatan dan kecerdasan mereka perlu dikenali dan ditumbuh kembangkan sejak
dini khususnya oleh orang tua anak sebagai pemberi kasih sayang yang pertama
(first care giver). Kecerdasan dan keberbakatan yang mereka miliki adalah
karunia dari TUHAN untuk keluarga, sekolah dan bangsa yang kerap tidak kita
kenali keindahannya. Lebih disayangkan lagi bila keunggulan mereka ternyata
disalah dipahami oleh lingkungan keluarga, teman sebaya atau bahkan oleh sekolah.
Anak-anak yang penuh daya kreasi dan enersi menjadi anak-anak yang dianggap
sebagai sumber masalah. Mutiara indah yang terbenam dalam dirinya ternyata bisa
menjadi sebuah petaka bagi dirinya oleh karena itu kehadiran lingkungan sekolah dan rumah yang mengakomodasi
keunikan mereka memang sangat penting bagi pertumbuhan anak-anak berbakat cerdas
Istimewa.
Sudah merupakan pemahaman bersama bahwa
keberbakatan memiliki kaitan erat dengan faktor-faktor keturunan atau genetika
demikian seperti yang dinyatakan oleh The Institute for Behavioral Genetics di
University of Colorado. Namun bekal genetis saja tidak cukup untuk seorang anak
Cerdas Istimewa bisa tumbuh dengan optimum dan menjadi anggota masyarakat yang
produktif. Faktor lingkungan yang kondunsif dan pembelajaran yang sesuai sangat
dibutuhkan guna menumbuh kembangkan talenta-talenta miliknya. Dengan kata lain:
“Nature acts as foundation, but nurturing
is essential for gifted children to excel”. Oleh karena itu orang tua dan
keluarga sebagai tempat tumbuh yang pertama dan utama memiliki peran yang tak
tergantikan untuk memastikan adanya “tanah yang gembur” dan “perawatan” yang
optimal untuk mendukung tumbuh kembang talenta anak.
Kegagalan orang tua dan sekolah untuk mengidentifikasi dan menumbuh
kembangkan anak-anak berbakat dan cerdas istimewa akan menciptakan banyak
kerugian. Pertama adalah anak itu sendiri karena anak-anak itu tidak akan
tumbuh secara optimal, mereka belajar dan bekerja hanya untuk “sesuap nasi”.
Mereka tidak terlatih untuk sanggup masuk ke dalam dunia kerja serta
berprestasi berdasarkan keunikan mereka. Kedua, kita akan kehilangan SDM
(Sumber Daya Manusia) istimewa yang sesungguhnya adalah sumber daya untuk
menciptakan solusi bagi persoalan-persoalan sulit yang sedang dihadapi manusia.
Kita memiliki banyak permasalahan sulit seperti banjir, kemacetan lalu lintas,
kemiskinan, pengangguran, penyakit-penyakit yang masih sulit atau mahal
penyembuhannya, persoalan lingkungan yang makin berat dsb. Anak-anak berbakat
dan cerdas cerdas istimewa yang sekarang berada di bangku-bangku sekolah kita
adalah harapan kita semua untuk terciptanya solusi baru bagi permasalahan
bangsa dan dunia.
Pendidikan entrepreneurship perlu diperkenalkan kepada anak-anak
berbakat cerdas istimewa karena dua alasan berikut. Pertama supaya anak-anak
ini sanggup meng”entrepreneur”kan keunikan mereka sehingga dapat mencapai
sebuah kehidupan yang mandiri secara finansial sekaligus menjadi pencipta
lapangan kerja bagi masyarakat. Alasan yang kedua, anak-anak yang belajar
entrepeneurship sejak dini akan terlatih untuk berpikir dan bertindak kreatif
serta inovatif. Entrepreneurship di abad 21 bukan sekedar “berdagang”, menurut
Peter Drucker pakar bisnis dan manajemen dunia esensi dari entrepreneurship
adalah inovasi. Inovasi itu sendiri adalah kreativitas yang disambut oleh
pasar.
Anak-anak berbakat
yang mendapatkan lingkungan dan pembelajaran yang tepat akan menjadi orang
dewasa yang mampu berpartisipasi positif dan memberikan kontribusi besar di dalam
masyarakat. Sebaliknya bila tidak tertangani dengan baik ia dapat menjadi
seseorang dengan prestasi dibawah kemampuan aktualnya atau seorang underachiever. Kondisi ini sangat
disayangkan tentunya, JC Gowan dalam bukunya dengan judul “The underachieving
child: A problem for everyone” menyatakan bahwa kehadiran anak-anak Cerdas
Istimewa dengan prestasi lebih rendah dari seharusnya (underachiever) adalah “one of the greatest social waste of our
culture”. Ini semua kiranya meneguhkan kembali panggilan kita semua baik
sebagai orang tua anak, sekolah maupun guru untuk dapat memberikan perhatian
yang cukup dalam menangani anak-anak berbakat dan cerdas Istimewa yang telah
TUHAN titipkan kepada kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar