Sabtu, 04 Januari 2014

ANAK-ANAK CERDAS ISTIMEWA TIDAK TUMBUH BEGITU SAJA


ANAK-ANAK CERDAS ISTIMEWA TIDAK TUMBUH BEGITU SAJA
(Antonius Tanan)

Pernyataan Mendiknas Muh Nuh di Manado dalam acara pembukaan OSN (Olympiade Sains Nasional) seperti dikutip KOMPAS tanggal 13 September 2011 yaitu Perlu Model Sekolah Khusus bagi  Anak Cerdas merupakan sebuah angin segar yang diharapkan tidak sekedar berhembus kemudian jadi “angin lalu”. Ini adalah angin segar karena pertama anak-anak Cerdas Istimewa adalah karunia tersendiri dari TUHAN untuk keluarga, sekolah dan bangsa yang kerap tidak kita kenali keindahannya. Lebih disayangkan lagi bila keunggulan mereka ternyata disalah dipahami oleh lingkungan keluarga, teman sebaya atau bahkan sekolah. Mutiara indah yang terbenam dalam dirinya ternyata bisa menjadi petaka bagi dirinya.
  Kedua kehadiran lingkungan sekolah dan rumah yang mengakomodasi keunikan mereka memang sangat penting bagi pertumbuhan anak-anak Cerdas Istimewa. Sudah diakui bahwa keberbakatan memiliki kaitan erat dengan faktor-faktor keturunan atau genetika demikian seperti yang dinyatakan oleh The Institute for Behavioral Genetics di University of Colorado. Namun bekal genetis saja tidak cukup untuk seorang anak Cerdas Istimewa bisa tumbuh dengan optimum dan menjadi anggota masyarakat yang produktif. Faktor lingkungan yang kondunsif dan pembelajaran yang sesuai sangat dibutuhkan guna menumbuh kembangkan talenta-talenta miliknya. Dengan kata lain: “Nature acts as foundation, but nurturing is essential for gifted children to excel”.
Ketiga, jumlah anak Cerdas Istimewa di Indonesia sangat banyak dan potensinya belum tergali sepenuhnya. Ada beragam definisi tentang siapakah anak Cerdas Istimewa. Mulai dari yang sederhana hingga yang komprehensif sekali. Definisi yang “kuno” menyatakan bahwa anak Cerdas Istimewa adalah mereka mereka yang berada 2% paling atas dalam perolehan test IQ atau mereka dengan nilai IQ sama atau diatas 130. NAGC atau National Association for Gifted Children di Amerika Serikat memiliki persayaratan yang lebih komprehensif, mereka menganjurkan adanya beragam pengukuran (test), menggunakan alat ukur yang valid dan pengumpulan informasi dari berbagai sumber (orang tua, guru, teman sebaya) untuk proses assessment anak-anak Cerdas Istimewa ini. Seandainya dengan ukuran 2% saja maka dengan 50 juta peserta didik yang ada di Indonesia maka setidaknya terdapat 1 juta anak Cerdas Istimewa di Indonesia.
Keempat, anak-anak berbakat dan cerdas istimewa adalah harapn kita untuk solusi persoalan-persoalan sulit yang sedang dan akan dihadapi Indonesia. Kita memiliki banyak permasalahan apakah itu banjir, kemacetan lalu lintas, kemiskinan, pengangguran, penyakit-penyakit yang masih sulit atau mahal penyembuhannya, persoalan lingkungan yang makin berat dan banyak lagi masalah-masalah yang sulit namun harus kita selesaikan. Siapa yang kita harapkan mampu menciptakan solusi inovatifnya? Bukankah mereka yang sudah memiliki kecerdasan istimewa untuk memecahkannya.  Mereka adalah anak-anak cerdas istimewa yang sekarang berada di bangku-bangku sekolah kita. Dengan keistimewaan kecerdasan yang mereka miliki dan visi hidup yang benar maka mereka akan menjadi aset bangsa yang sangat berharga.

Anak-anak Cerdas Istimewa yang mendapatkan lingkungan dan pembelajaran yang tepat akan menjadi orang dewasa yang mampu berpartisipasi positif dan memberikan kontribusi besar dalam masyarakat. Sebaliknya bila tidak tertangani dengan baik ia dapat menjadi seseorang dengan prestasi dibawah kemampuan aktualnya atau seorang underachiever. Kondisi ini sangat disayangkan tentunya, JC Gowan dalam bukunya dengan judul “The underachieving child: A problem for everyone” dihalaman 247 menyatakan bahwa kehadiran anak-anak Cerdas Istimewa dengan prestasi lebih rendah dari seharusnya (underachiever) adalah “one of the greatest social waste of our culture”. Ini tentunya meneguhkan kembali panggilan kita semua agar menangani anak-anak Cerdas Istimewa dengan penuh kesungguhan.

Pernyataan ungkapan perhatian Mendiknas untuk anak cerdas Indonesia dapat menjadi sebuah pernyataan yang historikal dan bukan “angin lalu” bila kemudian terjadi kebijakan dan program tindak lanjut. Negara kita dengan jumlah penduduk lebih dari 240 juta dan 50 juta anak di bangku sekolah memiliki jutaan anak cerdas istimewa, mereka lahir, besar dan belajar di Indonesia. Tiga usulan ini kiranya dapat dipertimbangkan. Pertama, tingkatkan pelayanan pemerintah untuk anak cerdas istimewa. Jangan hanya dilihat jumlahnya yang lebih kecil dibandingkan pelayanan pendidikan yang lain namun pertimbangkanlah dampak yang mungkin akan tercapai. Kedua lakukan jejaring dengan semua pemangku kepentingan yang peduli anak cerdas istimewa. Mereka adalah para guru sekolah, psikolog sekolah, perguruan tinggi, pakar pendidikan anak berbakat dan cerdas istimewa dan para orang tua dari anak-anak cerdas istimewa. Temukanlah solusi dan terobosan yang “bottom up” kemudian kembangkan kebijakan dan program yang mendarat dan berdampak. Ketiga kembangkan kebijakan, program atau insentif yang akan mendorong masyarakat untuk ikut berpartisipasi membangun pendidikan anak cerdas di Indonesia. Pembinaan mereka tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata bila ingin menghasilkan sebuah sasaran yang quantum leap (melompat jauh kemuka), perlu hadir sebuah inovasi sosial yang membuat pembinaan anak cerdas istimewa ini menjadi sebuah gerakan yang mendorong pemangku kepentingan untuk begerak sendiri-sendiri namun sinergis dan menuju visi yang sama. Peran pemerintah untuk hal ini sangat penting yaitu sebagai inspirator, katalisator dan fasilitator. Semoga ini semua dapat dipertimbangkan.


BIO DATA PENULIS

Ir. Antonius Tanan MBA, MSc, MA (HP 0816927362, antonius@ciputra.com) adalah Presiden UCEC (Universitas Ciputra Entrepreneurship). Menyelesaikan MA on Gifted/Talented Education dari University of Connecticut-USA (Desember 2010). Mengarang buku novel tentang anak-anak berbakat dengan judul The Gifted Club (Elexmedia, 2010). Saat ini menjadi pengurus beberapa yayasan pendidikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar