TRAGEDI: ANAK-ANAK BERBAKAT YANG TAK DIKENALI
(Antonius Tanan)
Siapa Anak Berbakat itu?
Ada beragam definisi tentang siapakah anak berbakat
atau anak-anak cerdas istimewa. Mulai dari yang sederhana hingga yang
komprehensif sekali. Definisi yang sederhana menyatakan bahwa anak berbakat
adalah mereka mereka yang berada 2% paling atas dalam perolehan test IQ atau mereka
dengan nilai IQ diatas 130. NAGC atau National
Association for Gifted Children di Amerika Serikat memiliki persayaratan yang
lebih komprehensif, mereka menganjurkan adanya beragam pengukuran (test),
menggunakan alat ukur yang valid dan pengumpulan informasi dari berbagai sumber
(orang tua, guru, teman sebaya) untuk proses assessment anak-anak berbakat ini.
Sebuah definisi tentang anak berbakat telah
disepakati dalam Seminar Nasional “Alternatif Program Pendidikan bagi Anak
Berbakat” yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan
Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Yayasan Pengembangan
Kreativitas pada tanggal 12-14 November 1981 di Jakarta (Utami Munandar, 1982)
sebagai berikut: Anak-anak berbakat
adalah mereka yang oleh orang-orang profesional diindentifikasikan sebagai anak
yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan
yang unggul. Anak-anak berbakat tersebut memerlukan program pendidikan yang
berdiferensiasi dan/atau pelayanan di luar jangkauanprogram sekolah biasa agar
dapat merealisasikan sumbangan mereka terhadap masyarakat maupun untuk
pengembangan diri sendiri. Kemampuan-kemampuan tersebut, baik secara potensial
maupun yang telah nyata meliputi:
§
Kemampuan
inteletual umum (kecerdasan atau intelegensia)
§
Kemampuan akademik
khusus
§
Kemampuan berpikir
kreatif-produktif
§
Kemampuan memimpin
§
Kemampuan dalam
salah satu bidang seni
§
Kemampuan
psikomotor (seperti dalam olah raga)
Anak-anak
berbakat yang sekarang berada di ruang-ruang kelas kita adalah harapan bangsa
untuk peraih medali dalam kompetisi akademis ataupun olah raga, mereka adalah
kandidat peraih nobel, mereka adalah inventor masa depan, mereka dapat menjadi
entrepreneur sosial atau entrepreneur bisnis kelas dunia, mereka akan
memecahkan masalah-masalah sulit dan rumit yang kebanyakan kita tidak mampu
memahaminya. Ya melalui karya mereka di masa depan kita boleh berharap sebuah
Indonesia yang lebih baik. Namun seorang anak berbakat yang lahir dengan
kecerdasan istimewa tidak begitu saja menjadi manusia dewasa yang berprestasi.
Sebagian besar anak-anak berbakat tidak dikenali atau tidak memperoleh peluang
untuk menumbuh kembangkan keberbakatannya melalui saluran kurikulum yang cocok
dengan kebutuhan mereka.
Sedikitnya
terdapat 7 alasan kenapa potensi anak-anak berbakat tidak sepenuhnya tergali
atau mengalami sebuah pembinaan yang cocok dan perlu. Pertama keberbakatan anak-anak tidak selalu mudah kita
kenali, orang tua dan guru tidak memiliki informasi yang cukup untuk
mengidentifikasi mereka sehingga kita lalai menyediakan lingkungan yang
kondunsif untuk pertumbuhannya. Misalnya dibalik perilaku kritis seorang anak
mungkin tersimpan intelegensia verbal yang tinggi namun kerap kita hanya label
mereka sebagai “anak cerewet”? Dibalik kebiasaan anak asyik masyuk berimajinasi
sendirian barangkali tersimpan kecerdasan visual yang luar biasa dan bisa saja
dalam kehidupan sehari-hari anak seperti ini kita sebut si “tukang ngelamun”.
Kedua, selain tidak semua
orang tua memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengenalinya namun jika
mengenalinya tidak tahu bagaimana mengembangkannya. Sebagai akibatnya
keberbakatan anak hanya jadi mutiara yang tidak terasah seumur hidup dari usia anak
hingga ia jadi tua. Ketiga, sebagian anak-anak berbakat memiliki masalah.
Apakah masalah dengan kehidupan emosi mereka ataupun memiliki
kelemahan-kelemahan lain yang hadir bersamaan dengan keberbakatan mereka. Sebagai
contoh salah satu ciri anak berbakat adalah sensitifitas terhadap suara, bau,
sentuhan maupun sensitif secara emosi. Mereka yang sensitif secara emosi
gampang tersentuh hatinya, terharu dan menitikkan air mata. Sensitifitas
memiliki nilai positif yaitu kemampuan berempati secara mendalam namun
lingkungannya mungkin hanya melabel dia sebagai anak cengeng.
Keempat belum banyak pakar
psikologi pendidikan yang memiliki keahliaan khusus dalam bidang keberbakatan. Dibandingkan
dengan jumlah sekolah dan jumlah peserta didik Indonesia maka kita memiliki
terlalu sedikit psikolog sekolah dengan keahliaan khusus ini. Pertemuan tahunan
para pendidik anak berbakat yang bernama Confratute di University of
Connecticut kurang dikenal di Indonesia dan sedikit pendidik Indonesia yang pernah
hadir di acara tersebut. Padahal Confratute diselenggarakan oleh Dr.Joseph Renzulli dan timnya seorang pakar
dunia untuk keberbakatan dan pendidikan keberbakatan yang
pandangan-pandangannya menjadi acuan di fakultas psikologi pendidikan.
Kelima, pusat-pusat yang
memberikan perhatian utama pada keberbakatan seperti Pusat Keberbakatan UI
masih terlalu sedikit jumlahnya. Idealnya di tiap propinsi terdapat satu
pusat. Keenam, belum banyak
edukator di Indonesia yang memiliki keahliaan yang cukup untuk mengembangkan
kurikulum pembelajaran untuk anak-anak berbakat. Sebagai akibatnya terlalu
sedikit jumlah sekolah yang memberikan fasilitas pendidikan yang ramah terhadap
keunikan dan keistimewaan anak-anak berbakat cerdas istimewa. Padahal sudah
terdapat ragam strategi intervensi pembelajaran yang dapat lebih mengakomodasi
kebutuhan mereka. Ketujuh, masih
dirasakan sedikit sekali perhatian media massa terhadap keberbakatan padahal
ini adalah sumber daya masa depan yang sangat bernilai untuk kesejahteraan
bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar