Sabtu, 04 Januari 2014

Tragedi Anak Berbakat


TRAGEDI: ANAK-ANAK BERBAKAT YANG TAK DIKENALI
(Antonius Tanan)

Siapa Anak Berbakat itu?
Ada beragam definisi tentang siapakah anak berbakat atau anak-anak cerdas istimewa. Mulai dari yang sederhana hingga yang komprehensif sekali. Definisi yang sederhana menyatakan bahwa anak berbakat adalah mereka mereka yang berada 2% paling atas dalam perolehan test IQ atau mereka dengan nilai IQ diatas 130. NAGC atau National Association for Gifted Children di Amerika Serikat memiliki persayaratan yang lebih komprehensif, mereka menganjurkan adanya beragam pengukuran (test), menggunakan alat ukur yang valid dan pengumpulan informasi dari berbagai sumber (orang tua, guru, teman sebaya) untuk proses assessment anak-anak berbakat ini.

Sebuah definisi tentang anak berbakat telah disepakati dalam Seminar Nasional “Alternatif Program Pendidikan bagi Anak Berbakat” yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Yayasan Pengembangan Kreativitas pada tanggal 12-14 November 1981 di Jakarta (Utami Munandar, 1982) sebagai berikut: Anak-anak berbakat adalah mereka yang oleh orang-orang profesional diindentifikasikan sebagai anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul. Anak-anak berbakat tersebut memerlukan program pendidikan yang berdiferensiasi dan/atau pelayanan di luar jangkauanprogram sekolah biasa agar dapat merealisasikan sumbangan mereka terhadap masyarakat maupun untuk pengembangan diri sendiri. Kemampuan-kemampuan tersebut, baik secara potensial maupun yang telah nyata meliputi:
§   Kemampuan inteletual umum (kecerdasan atau intelegensia)
§   Kemampuan akademik khusus
§   Kemampuan berpikir kreatif-produktif
§   Kemampuan memimpin
§   Kemampuan dalam salah satu bidang seni
§   Kemampuan psikomotor (seperti dalam olah raga)

Anak-anak berbakat yang sekarang berada di ruang-ruang kelas kita adalah harapan bangsa untuk peraih medali dalam kompetisi akademis ataupun olah raga, mereka adalah kandidat peraih nobel, mereka adalah inventor masa depan, mereka dapat menjadi entrepreneur sosial atau entrepreneur bisnis kelas dunia, mereka akan memecahkan masalah-masalah sulit dan rumit yang kebanyakan kita tidak mampu memahaminya. Ya melalui karya mereka di masa depan kita boleh berharap sebuah Indonesia yang lebih baik. Namun seorang anak berbakat yang lahir dengan kecerdasan istimewa tidak begitu saja menjadi manusia dewasa yang berprestasi. Sebagian besar anak-anak berbakat tidak dikenali atau tidak memperoleh peluang untuk menumbuh kembangkan keberbakatannya melalui saluran kurikulum yang cocok dengan kebutuhan mereka.

Sedikitnya terdapat 7 alasan kenapa potensi anak-anak berbakat tidak sepenuhnya tergali atau mengalami sebuah pembinaan yang cocok dan perlu. Pertama  keberbakatan anak-anak tidak selalu mudah kita kenali, orang tua dan guru tidak memiliki informasi yang cukup untuk mengidentifikasi mereka sehingga kita lalai menyediakan lingkungan yang kondunsif untuk pertumbuhannya. Misalnya dibalik perilaku kritis seorang anak mungkin tersimpan intelegensia verbal yang tinggi namun kerap kita hanya label mereka sebagai “anak cerewet”? Dibalik kebiasaan anak asyik masyuk berimajinasi sendirian barangkali tersimpan kecerdasan visual yang luar biasa dan bisa saja dalam kehidupan sehari-hari anak seperti ini kita sebut si “tukang ngelamun”.  

Kedua, selain tidak semua orang tua memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengenalinya namun jika mengenalinya tidak tahu bagaimana mengembangkannya. Sebagai akibatnya keberbakatan anak hanya jadi mutiara yang tidak terasah seumur hidup dari usia anak hingga ia jadi tua. Ketiga, sebagian anak-anak berbakat memiliki masalah. Apakah masalah dengan kehidupan emosi mereka ataupun memiliki kelemahan-kelemahan lain yang hadir bersamaan dengan keberbakatan mereka. Sebagai contoh salah satu ciri anak berbakat adalah sensitifitas terhadap suara, bau, sentuhan maupun sensitif secara emosi. Mereka yang sensitif secara emosi gampang tersentuh hatinya, terharu dan menitikkan air mata. Sensitifitas memiliki nilai positif yaitu kemampuan berempati secara mendalam namun lingkungannya mungkin hanya melabel dia sebagai anak cengeng.
Keempat belum banyak pakar psikologi pendidikan yang memiliki keahliaan khusus dalam bidang keberbakatan. Dibandingkan dengan jumlah sekolah dan jumlah peserta didik Indonesia maka kita memiliki terlalu sedikit psikolog sekolah dengan keahliaan khusus ini. Pertemuan tahunan para pendidik anak berbakat yang bernama Confratute di University of Connecticut kurang dikenal di Indonesia dan sedikit pendidik Indonesia yang pernah hadir di acara tersebut. Padahal Confratute diselenggarakan oleh  Dr.Joseph Renzulli dan timnya seorang pakar dunia untuk keberbakatan dan pendidikan keberbakatan yang pandangan-pandangannya menjadi acuan di fakultas psikologi pendidikan. 
Kelima, pusat-pusat yang memberikan perhatian utama pada keberbakatan seperti Pusat Keberbakatan UI masih terlalu sedikit jumlahnya. Idealnya di tiap propinsi terdapat satu pusat.  Keenam, belum banyak edukator di Indonesia yang memiliki keahliaan yang cukup untuk mengembangkan kurikulum pembelajaran untuk anak-anak berbakat. Sebagai akibatnya terlalu sedikit jumlah sekolah yang memberikan fasilitas pendidikan yang ramah terhadap keunikan dan keistimewaan anak-anak berbakat cerdas istimewa. Padahal sudah terdapat ragam strategi intervensi pembelajaran yang dapat lebih mengakomodasi kebutuhan mereka.   Ketujuh, masih dirasakan sedikit sekali perhatian media massa terhadap keberbakatan padahal ini adalah sumber daya masa depan yang sangat bernilai untuk kesejahteraan bangsa.

Anak-anak berbakat adalah calon pemimpin masa depan, tenokrat masa depan, peraih nobel masa depan, seniman masa depan, mereka telah terlahir dengan keunikan dan keunggulan tersendiri. Bila keberbakatan mereka dikenali dan dikembangkan sejak dini mereka dapat berkembang menjadi solusi dan agen perubahan masa depan yang akan memberikan kontribusi penting dalam mewujudkan Indonesia sejahtera. Untuk dapat melaksanakan ini semua kita tidak dapat hanya mengandalkan inisiatif pemerintah ataupun lembaga pendidikan. Pekerjaan rumah yang harus dilakukan masih terlalu besar dibandingkan dengan kapasitas yang tersedia. Kita perlu menggalang potensi orang tua dari anak-anak berbakat untuk bersama-sama memikirkan jalan keluar dan menemukan terobosan-terobosan baru untuk mewujudkan anak-anak berbakat Indonesia untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar